previous arrow
next arrow
Slider

Tujuh Aturan Berbicara

TUJUH ATURAN BERBICARA

Aturan ini bisa membantu Kita mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam kemampuan berkomunikasi oral dan verbal. Dan persis seperti yang dimaksud tata nilai mendasar dalam aturan berbicara, Kita harus selalu menjaga mulut Kita.

Satu hal yang perlu diingat adalah, bahwa apa dan bagaimanapun proyeksi Kita sebagai pembicara publik, kualitas dan kualifikasinya akan selalu terkait erat dengan bagaimana Kita berbicara di hari-hari biasa. Di saat ngobrol santai, di rumah, di teras, di warung dan bahkan di tempat tidur bersama suami atau istri Kita.

Itu artinya, kualitas bicara bisnis dan profesional Kita, kualitas komunikasi massa dan antar personal Kita, adalah satu kesatuan yang utuh.

SOPAN

Kita boleh marah, Kita boleh memuji, Kita boleh menginterogasi. Semuanya adalah bentuk-bentuk komunikasi. Kita boleh mengatakan apapun dengan cara apapun. Namun pada akhirnya, semua bicara Kita akan bermuara pada kebenaran tentang siapa Kita dan bagaimana perilaku Kita. Untuk itu, Kita selalu punya dua pilihan untuk tempat berdiri dan memandang:

  1. Ubin cinta, kasih dan sayang; atau
  2. Ubin ketakutan, rasa tidak nyaman atau merasa terancam.

Setiap ubin menyemburatkan berbagai implikasi yang sama dan sejenis. Sebangun, sekeluarga dan sekerabat.

Ubin yang satu beraroma sarkasme, menyalahkan, menuding, menuduh, mengancam, naik pitam, takut, panik, membela diri, hasrat mengontrol. Apa yang dikomunikasikan beresensi ketakutan dan ketidaknyamanan.

Ubin yang satunya lagi, diwarnai dengan rasa menghargai, penerimaan, enjoy, ringan, antusias. Apa yang dikomunikasikan punya isi tentang cinta, kasih dan sayang.

Apapun, sampaikan dengan sopan dan santun.

WASPADAI DAMPAKNYA

Orang sering membuka mulut untuk mengkritisi dan menyerang orang lain. Beberapa orang bahkan berpredikat master dalam hal ini. Mereka bisa melakukannya dengan terbuka, atau tertutupi. Bagi beberapa orang, berkomunikasi adalah perang. Tujuannya untuk menang, dan kata-katanya adalah panglima. Luka akibat kata-kata, sering lebih dalam dari pada sayatan pedang. Dan lukanya, kering lebih lama dari borok yang jorok.

Komunikator yang handal adalah komunikator yang paham dan mengerti dampak dari kata-katanya. Mereka juga ahli dalam menyesuaikannya dengan keadaan dan suasana.

PILIH YANG POSITIF SAJA

Komunikasi jauh lebih dalam dari pada sekedar lalu-lintas informasi dan pesan. Komunikator yang handal, akan menyisakan rasa nyaman dan bernilai pada orang-orang yang mendengarkannya.

Maka, berkomunikasi bukan hanya tentang kata-kata. Komunikasi adalah tentang orang dan manusia. Dan menurut Daniel Coleman, setiap interaksi bermuara pada dua implikasi; lebih baik, atau lebih buruk.

TIDAK BERASUMSI TELAH DIMENGERTI

Catatan sejarah yang panjang dalam kehidupan manusia, hampir selalu menunjukkan sisi gelap yang dipicu oleh kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Menurut Stephen Covey, “Pertama, jadilah yang dimengerti; lalu mengertilah.”

TAHU KAPAN HARUS DIAM

Hal tersulit tentang mulut adalah menutupnya rapat-rapat. Dan orang-orang datang menghadiri berbagai sesi dengan kecenderungan untuk membukanya lebar-lebar. Sebabnya hanya satu, mereka ingin mengimpresi orang. Hasil terburuk dari situasi semacam ini, adalah terbuangnya waktu dan turunnya produktifitas.

Komunikator yang handal adalah komunikator yang merasa cukup aman, manakala mereka harus mengakui hanya ada sedikit yang akan dibicarakan, atau malah tidak ada sama sekali. Mereka tahu kapan harus diam.

TIDAK MENGINTERUPSI

Interupsi hanya akan menciptakan perlombaan dan kontes. Dan ini namanya “the bigger fish syndrome”.

  • “Ikan Gua gede banget loh!”
  • “Wuu.. ikan Gue lebih gede lagi!”
  • “Tapi pan ikan Gue lebih titik-titik!”

Komunikator yang baik adalah pendengar yang baik. Komunikator yang baik adalah yang terbuka dan tidak menghakimi. Terus demikian, sampai lawan bicaranya berhenti atau memberi giliran.

Jika Kita mencoba menahan diri untuk tidak menginterupsi, manakala Kita merasa sudah saatnya untuk membuka mulut, Kita pasti mengalami gejala ini: mual, ingin muntah, tenggorokan serasa akan pecah. Itu artinya, Kita belum terbiasa.

TIDAK MENGGOSIP TIDAK MENGGHIBAH

Keduanya adalah bentuk komunikasi yang merugikan. Sungguh, dunia dan akhirat. Dan biasanya, ini dipakai hanya untuk membuang-buang waktu. Apa yang ingin dicapai, hanyalah meringankan beban sendiri atasongkos orang lain. Apa yang dilakukan, adalah memakan bangkai teman sejawat. Alias kanibal.

Jika ada pancingan untuk terjerumus ke dalam keduanya, perhatikan ini:

  • Tidak menanggapi;
  • Tidak menyahut;
  • Tidak terpengaruh;
  • Tidak berinisiatif melakukannya.

“Pikiran hebat berkutat pada ide, pikiran rata-rata mengapresiasi situasi, dan pikiran jeblok ngomongin orang.”

Setiap kali Kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, Kita dihadapkan pada peluang untuk menciptakan sesuatu yang istimewa.

Saat Kita menambahkan sedikit nilai ke dalamnya, nilai itu menjadi bahan bakar yang mendorong maju. Jika yang Kita lakukan sebaliknya, maka semua hal akan mundur dan tenggelam. Berkomunikasi adalah untuk menciptakan sesuatu yang istimewa.

Oleh sebab itu, janganlah Kita yang jadi perusaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

Scroll Up
WhatsApp chat