Dead Horse Theory: 5 Tanda Training Tidak Lagi Efektif

Dead Horse Theory dalam Dunia Pelatihan: 5 Tanda Training Tidak Lagi Efektif

Setiap organisasi ingin memastikan bahwa investasi pelatihan benar-benar memberikan dampak nyata bagi kinerja karyawan dan pertumbuhan bisnis. Namun kenyataannya, tidak sedikit perusahaan yang terus mempertahankan program training yang sudah tidak relevan, tidak efektif, dan tidak memberikan hasil. Di sinilah konsep Dead Horse Theory menjadi sangat relevan untuk dipahami oleh para pemimpin bisnis, HR, dan tim Learning & Development.

Dead Horse Theory secara sederhana menggambarkan kecenderungan manusia dan organisasi untuk terus “menunggangi kuda yang sudah mati”, alih-alih mengakui bahwa pendekatan yang digunakan sudah tidak bekerja. Dalam konteks pelatihan karyawan, teori ini menjelaskan mengapa banyak perusahaan tetap mengalokasikan anggaran besar untuk program training yang gagal, hanya karena sudah terbiasa atau enggan mengubah arah.

Artikel ini akan mengupas secara mendalam apa itu Dead Horse Theory, bagaimana penerapannya dalam dunia pelatihan dan eLearning, serta 5 tanda utama untuk mengenali training yang tidak lagi efektif. Lebih dari sekadar teori, pembahasan ini dirancang sebagai panduan strategis bagi organisasi yang ingin memastikan setiap program pembelajaran benar-benar berdampak pada performa bisnis.


Daftar Isi

  1. Apa Itu Dead Horse Theory?
  2. Dead Horse Theory dalam Konteks Pelatihan Karyawan
  3. Tanda 1: Training Terus Dilakukan Tanpa Dampak Nyata
  4. Tanda 2: Fokus pada Kehadiran, Bukan Perubahan Perilaku
  5. Tanda 3: Materi Tidak Relevan dengan Tantangan Kerja
  6. Tanda 4: Anggaran Training Besar, ROI Tidak Jelas
  7. Tanda 5: Organisasi Menolak Evaluasi dan Perubahan
  8. Dampak Dead Horse Training terhadap Kinerja Bisnis
  9. Cara Menghentikan Siklus Training yang Tidak Efektif
  10. Kesimpulan: Saatnya Turun dari Kuda yang Salah

Apa Itu Dead Horse Theory?

Dead Horse Theory berasal dari pepatah kuno yang menyatakan bahwa jika Anda menyadari sedang menunggangi kuda yang sudah mati, solusi terbaik adalah turun. Namun dalam praktik organisasi, yang sering terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih berhenti, organisasi cenderung:

  • Membeli pelana baru untuk kuda yang sudah mati
  • Mengganti penunggang, bukan kudanya
  • Membentuk tim khusus untuk menganalisis mengapa kuda tersebut mati
  • Membandingkan kuda mati tersebut dengan kuda mati dari organisasi lain

Dalam dunia bisnis, Dead Horse Theory mencerminkan ketidakmauan untuk mengakui kegagalan strategi, termasuk dalam hal pelatihan dan pengembangan karyawan.

Dead Horse Theory dalam Konteks Pelatihan Karyawan

Dalam pelatihan karyawan, Dead Horse Theory muncul ketika perusahaan tetap menjalankan program training yang:

  • Tidak meningkatkan kompetensi karyawan
  • Tidak berdampak pada kinerja atau produktivitas
  • Tidak relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini

Namun karena program tersebut sudah lama berjalan, dianggap sebagai “standar”, atau melibatkan investasi besar, organisasi memilih untuk melanjutkannya tanpa evaluasi mendalam.

Inilah alasan mengapa banyak perusahaan merasa telah “berinvestasi besar dalam training”, tetapi tidak melihat perubahan signifikan di lapangan.

Tanda 1: Training Terus Dilakukan Tanpa Dampak Nyata

Program Berulang, Hasil Tetap Sama

Salah satu tanda paling jelas dari training yang sudah menjadi “dead horse” adalah program yang terus diulang setiap tahun tanpa perubahan hasil. Materi sama, metode sama, dan keluhan karyawan pun sama.

Jika setelah bertahun-tahun pelatihan, masalah kompetensi tetap muncul, maka besar kemungkinan yang bermasalah bukan karyawannya—melainkan strateginya.

Pelatihan Menjadi Rutinitas, Bukan Solusi

Training yang efektif seharusnya menjadi solusi atas masalah bisnis. Ketika pelatihan hanya menjadi agenda rutin tanpa tujuan yang jelas, organisasi sebenarnya sedang menunggangi kuda yang sudah mati.

Tanda 2: Fokus pada Kehadiran, Bukan Perubahan Perilaku

Indikator Keberhasilan yang Keliru

Banyak organisasi masih mengukur keberhasilan training dari:

  • Jumlah peserta
  • Tingkat kehadiran
  • Sertifikat kelulusan

Padahal, indikator tersebut sama sekali tidak menjamin adanya perubahan perilaku atau peningkatan kinerja.

Belajar Selesai, Pekerjaan Tetap Sama

Jika setelah training karyawan kembali bekerja dengan cara yang sama, maka program tersebut gagal menjalankan fungsi utamanya. Namun ironisnya, banyak organisasi tetap menganggap training tersebut sukses.

Tanda 3: Materi Tidak Relevan dengan Tantangan Kerja

Konten Generik dan Tidak Kontekstual

Training yang tidak efektif sering kali menggunakan materi generik yang tidak disesuaikan dengan konteks industri, peran kerja, atau tantangan nyata di lapangan.

Karyawan pun kesulitan mengaitkan apa yang mereka pelajari dengan pekerjaan sehari-hari.

Belajar Banyak, Menerapkan Sedikit

Ketika materi terasa jauh dari realitas kerja, tingkat transfer pembelajaran menjadi sangat rendah. Inilah ciri khas training yang sudah kehilangan relevansinya.

Tanda 4: Anggaran Training Besar, ROI Tidak Jelas

Investasi Tanpa Ukuran Dampak

Organisasi sering menghabiskan anggaran besar untuk pelatihan, tetapi tidak memiliki mekanisme untuk mengukur Return on Investment (ROI).

Tanpa data yang jelas, manajemen cenderung mengasumsikan bahwa training “pasti bermanfaat”, meskipun tidak ada bukti konkret.

Sunk Cost Fallacy dalam Training

Karena sudah terlanjur mengeluarkan banyak biaya, organisasi enggan menghentikan program yang gagal. Ini adalah contoh klasik dari sunk cost fallacy dalam dunia L&D.

Tanda 5: Organisasi Menolak Evaluasi dan Perubahan

Takut Mengakui Kegagalan

Menghentikan atau mengubah strategi training sering dianggap sebagai pengakuan atas kegagalan masa lalu. Akibatnya, organisasi memilih bertahan pada pendekatan yang sudah tidak efektif.

Budaya “Yang Penting Sudah Training”

Budaya ini sangat berbahaya karena menempatkan proses di atas hasil. Training tetap berjalan, tetapi nilai bisnisnya semakin menurun.

Dampak Dead Horse Training terhadap Kinerja Bisnis

Mempertahankan training yang tidak efektif membawa konsekuensi serius bagi organisasi, antara lain:

  • Pemborosan anggaran pelatihan
  • Kesenjangan kompetensi yang semakin lebar
  • Motivasi belajar karyawan menurun
  • Produktivitas dan daya saing perusahaan stagnan

Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat transformasi dan pertumbuhan bisnis.

Cara Menghentikan Siklus Training yang Tidak Efektif

Evaluasi Berbasis Data dan Dampak

Gunakan metrik yang berfokus pada perubahan perilaku dan kinerja, bukan sekadar aktivitas belajar.

Selaraskan Training dengan Tujuan Bisnis

Setiap program pelatihan harus memiliki keterkaitan langsung dengan strategi dan kebutuhan bisnis.

Manfaatkan eLearning dan Learning Analytics

Platform digital memungkinkan evaluasi yang lebih akurat dan pembelajaran yang lebih relevan serta adaptif.

Berani Menghentikan Program yang Tidak Efektif

Keberanian untuk berhenti adalah langkah awal menuju strategi pembelajaran yang lebih berdampak.

Kesimpulan: Saatnya Turun dari Kuda yang Salah

Dead Horse Theory mengajarkan satu pelajaran penting: mempertahankan sesuatu yang sudah tidak bekerja hanya akan menghabiskan waktu, energi, dan anggaran.

Dalam konteks pelatihan karyawan, organisasi perlu berani bertanya secara jujur: apakah program training kami benar-benar meningkatkan kinerja, atau sekadar rutinitas tahunan?

Dengan mengenali lima tanda training yang tidak efektif dan mengambil langkah strategis untuk berubah, perusahaan dapat mengalihkan investasi pembelajaran ke arah yang lebih relevan, terukur, dan berdampak nyata bagi bisnis.

Saatnya turun dari kuda yang sudah mati, dan mulai membangun strategi pembelajaran yang benar-benar membawa organisasi melaju ke depan.